Selasa, 11 November 2014

Metode-metode dalam Psikologi

Metode-metode dalam Psikologi
Metode tertua yang digunakan dalam lapangan psikologi ialah Spekulasi. Akan tetapi akibat perkembangan ilmu perkembangan pada umumnya dan psikologi pada khususnya akhirnya metode ini ditinggalkan dan dirintislah metode baru yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman (Empiris). Pada dasarnya metode penelitian dapat dibedakan atas 2 bagian besar yaitu Metode Longitudinal dan Metode Crossectional.
a. Metode Longitudinal
Metode ini merupakan metode penelitian yang membutuhkan waktu yang relative lama untuk mencapai suatu hasil penelitian. Dengan metode ini penelitian dilakukan hari demi hari, bulan demi bulan bahkan mungkin tahun demi tahun. Karena itu apabila dilihat dari segi perjalanan penelitisn ini adalah secara vertikal.
b. Metode Cross-sectional
merupakan suatu metode penelitian yang tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama didalam melakukan penelitian. Dengan metode ini dalam waktu yang relatif singkat dapat disimpulkan bahan yang banyak. Jadi kalau dillihat dari jalannya metode ini merupakan penelitian Horisontal.
Untuk lebih terperinci dapat di kemukakan metode-metode yang digunakan dalam lapangan psikologi sebagai berikut:
1) Metode Introspeksi
Introspeksi adalah Melihat kedalam (intro = kedalam dan speksi <spectare> =melihat). Metode ini merupakan suatu metode penelitian dengan melihat peristiwa-peristiwa kedalam dirinya sendiri.
2) Metode Introspeksi eksperimental
Metode ini merupakan metode penggabungan dari introspeksi dengan eksperimen. Dengan jalan eksperimen, maka sipat subjektivitas dari metode introspeksi akan dapat diatasi. Pada metode introspeksi murni hanya dari penelitian yang menjadi objek. Tetapi pada introspeksi eksperimental jumlah subjek banyak, yaitu orang orang yang dieksperimentasi itu.
3) Metode Ekstropeksi
Artinya Melihat Keluar. Metode ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada metode introspeksi. Pada metode ekstropeksi subjek penelitian bukan dirinya sendiri tetapi orang lain. Dengan demikian diharapkan adanya sipat yang objektif dalam penelitian itu.
4) Metode Kuesioner
Kuesioner sering pula disebut angket merupakan metode penelitian dengan menggunakan saftar pertanyaan atau pernyataan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang menjadi subjek dari penelitian tersebut
5) Metode Interview
Merupakan metode penelitian dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sevara lisan.
6) Metode Biografi
Merupakan metode tulisan tentang kehidupan seseorang yang merupakan riwayat hidup. Dalam biografi, orang menguraikan tentang keadaan, sikap-sikap ataupun sifat-sifat lain mengenai orang yang bersangkutan.
7) Metode Analisis Karya
Merupakan suatu metode penelitian yang dengan mengadakan analisis dari hasil karya.
8 ) Metode Klinis
Metode ini mula-mula timbul dalam lapangan klinik untuk mempelajari keadaan orang orang yang jiwanya terganggu (abnormal)
9) Metode Testing
Merupakan metode penelitian yang menggunakan soal-soal, pertanyaan-pertanyaan, atau tugas lain yang telah distandarisasikan.
10) Metode Statistik
Pada umumnya metode ini digunakan untuk mengadakan penganalisisan terhadap materi atau data yang telah dikumpulkan dalam suatu penelitian
2.3 Macam-Macam Pengumpulan Data
a. Eksperimen
Eksperimen adalah suatu percobaan atau serangkaian percobaan pada sebuah proses atau sistem yang dilakukan dengan perubahan yang sengaja dilakukan pada variabel input sehingga kita dapat mengamati dan mengidentifikasi penyebab perubahan pada output sistem tersebut. Eksperimen diyakini mempengaruhi perilaku yang diteliti, dimanipulasi dengan prosedur yang dikontrol secara seksama di mana satu atau lebih variabel yang dibuat konstan. Jika perilaku yang diteliti berubah suatu saat sebuah variabel akan dimanipulasi, kita dapat mengatakan bahwa variabel yang dimanipulasi menyebabkan perubahan-perubahan perilaku. Dengan kata lain, eksperimen telah memperlihatkan sebab dan akibat. Sebab ialah perilaku yang dimanipulasi dan akibat ialah perilaku yang berubah karena manipulasi. Penempatan acak (random assignment) terjadi ketika para peneliti menempatkan subjek secara kebetulan kedalam kondisi eksperimen dan kontrol, sehingga mengurangi kemungkinan bahwa hasil eksperimen akan disebabkan oleh beberapa perbedaan yang telah ada sebelumnya.
Penempatan acak atau random assignment adalah peneliti menempatkan sebuah subjek penelitian ke dalam suatu kelompok tanpa disengaja. Teknik ini mengurangi kecenderungan bahwa hasil eksperimen akan sangat dipengaruhi oleh perbedaan antar kelompok yang sudah ada sebelumnya (Martin, 2004). Jumlah subyek untuk penelitiannya dibutuhkan banyak, sehingga dengan luasnya atau banyaknya subyek penelitian maka hasil yang didapatkan obyektif. Terdapat beberapa aspek penting dalam teori modelling atau eksperimen, yaitu :
Subjek
Objek
Treatment
Observasi atau perekaman : pengukuran
Observer : pelaku pengukuran
Variabel : perilaku modelling
- Variabel Independen (bebas)
- Variabel Dependen (Terikat)
Etika (aspek terpenting dalam penelitian)
Hipotesis
Subjek adalah individu yang akan diteliti atau dibeikan sebuah eksperimen. Misalnya, anak yang terdapat di penelitian Bandura dengan Bobo doll’s nya.
Objek adalah alat yang digunakan untuk melakukan penelitian eksperimen.
Treatment adalah pemberian perilaku terhadap subjek tersebut.
Observasi adalah pengukuran yang dilakukan terhadap subjek dan objek. Peneliti mengidentifikasi subjek dengan mengamati perilaku subjek setiap harinya untuk mengetahui hasilnya.
Observer adalah pelaku pengukuran tersebut yang dimana ia memiliki tugas untuk mengidentifikasi subjek.
Variabel adalah segala sesuatu yang dapat berubah. Terdapat dua variabel dalam eksperimen yaitu variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat). Variabel bebas adalah faktor eksperimental yang dimanipulasi. Ia adalah potensi penyebab. Penamaan ”bebas” digunakan karena variabel ini digunakan untuk dapat dimanipulasi mandiri dari faktor lain untuk menentukan akibatnya. Para peneliti memiliki banyak pilihan yang terbuka untuk mereka memilih variabel bebas dan satu eksperimennya dapat melibatkan beberpa variabel bebas. Variabel terikat adalah faktor yang dapat berubah dalam suatu eksperimen sebagai respons terhadap perubahan pada variabel bebas. Sebagaimana peneliti memanipulasi variabel bebas, mereka mengukur variabel terikat untuk berbagai hasil akibat. sebuah aspek penting dari pengonseptualisasian sebuah masalah penelitian adalah menghasilkan cara konkret untuk mengukur variabel sendiri yang diteliti.
Etika adalah aspek terpenting dalam melakukan sebuah penelitian. Dimana peneliti harus memikirkan kembali apakah eksperimen yang akan dilakukan melanggar sebuah etika atau dapat dikatakan tidak memiliki etika untuk mengeksperimenkan penelitian yang akan dilakukan. Misalnya: eksperimen perbedaan anak dibawah umur merokok karena dipengaruhi lingkungan atau teman sebaya. Tidak memungkinkan jika anak dibawah umur kita berikan rokok untuk mengetahui hasilnya. kode etik yang diadopsi oleh APA menginstruksikan para peneliti untuk melindungi subjek mereka dari bahaya mental dan fisik. kepentingan terbaik subjek harus dijaga terutama di dalam pikiran peneliti. semua subjek harus memberi persetujuan mereka untuk berpastisipasi dalam studi penelitian, yang mensyaratkan bahwa subjek harus mengetahui bagaimana partisipasi mereka akan dilibatkan dan resiko apa yang mungkin berkembang. misalnya, subjek penelitian satu dengan satu yang lain harus diberitahukan sebelumnya bahwa kuisioner dapat merangsang pemikiran tentang isu yang mungkin tidak mereka antisipasi. subjek juga harus diinformasikan bahwa dalam beberapa hal suatu diskusi tentang isu yang mungkin dimunculkan dapat memperbaiki. persoalan etis khusus mengatur pelaksanaan penelitian dengan anak-anak. pertama jika anak-anak harus diteliti, harus ada persetujuan yang diinformasikan dari orang tu atau wali yang sah. Orang tua memiliki hak untuk memperoleh gambaran yang memiliki lengkap dan akurat tentang apa yang akan dilakukan pada dan oleh anak-anak mereka dan dapat menolak untuk brpastisipasi. kedua, anak-anak juga memiliki hak. Psikolog berkewajiban menjelaskan secara persis apa yang akan dialami oleh anak-anak. anak dapat menolak untuk berpastisipasi, bahkan setelah persetujuan orang tua diberikan. jika demikian, para peneliti haruslah tidak menguji anak. Ketiga, psikolog harus selalu menimbang potensi yang membahayakan anak-anak dibandingkan dengan prospek manfaatnya bagi mereka. Keempat karena anak-anak berada dalam suatu posisi yang rawan dan lemah serta kurang kendali ketika menghadapi orang dewasa, psikolog sebaiknya selalu berusaha membuat pertemuan profesional sebagai suatu pengalaman yang positif dan mendukung.
Hipotesis adalah pernyataan sementara saat penelitiaan. Gagasan yang muncul secara logis dari sebuah teori. Ia merupakan suatu peramalan yang dapat diuji, bisa juga dianggap sebagai sebuah tebakan ilmiah atau teori yang diberikan dan penerapan logika.
Tujuan dari ekperimen sendiri adalah untuk mengontrol sebuah perilaku yang dimunculkan dimana penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetahui sebuah hasil akhir yang dapat diidentifikasi bagaimana setiap individu berperilaku. Dimana tujuan dari ilmu psikologi adalah mengamati serta memahami perilaku dan menarik kesimpulan memahaminya untuk mengaplikasikan ilmu psikologi tersebut untuk mengontrol perilaku yang dimunculkan.
Beberapa peringatan mengenai penelitian eksperimen, Validitas merujuk pada kekuatan kesimpulan yang kita tarik dari suatu eksperimen. Ada dua jenis validitas yang penting bagi desain eksperimental. Jenis pertama adalah validitas ekologi (ecological validity) yang merujuk pada tingkat di mana desain eksperimental mewakili persoalan-persoalan di dunia nyata seperti yang seharusnya ditangani. Hal ini bermaksud, apakah metode eksperimental yang seharusnya ditangani. Tujuannya untuk mengetahui apakah metode eksperimental dan hasilnya dapat digeneralisasikan kepada dunia nyata.
b. Survey dan Wawancara
Survey adalah suatu bentuk penelitian untuk dapat memperoleh informasi serta argumen dalam bentuk kuisioner atau wawancara kepada responden. Penelitian seperti ini diberikan kepada responden secara spesifik, dalam bentuk sebuat pertanyaan atau pilihan. Survey adalah cara terbaik untuk mendapatkan sebuah informasi yang menanyakan untuk hasil jawaban yang dibutuhkan peneliti. Pertanyaan yang diajukan juga cukup spesifik dan standar. Survey yang baik adalah dimana isi dari pertanyaan tersebut jelas dan tidak memungkinkan responden menjawab dengan ambigu serta memungkinkan penilaian akan keaslian jawaban. Pertanyaan dapat berupa keyakinan agama, kebiasaan individu atau dapat pula pengendalian individu. Keuntungan utama dari survey ialah dapat dengan mudah diberikan kepada sejumlah besar responden.
Wawancara juga sebuah metode penelitian yang sering digunakan oleh peneliti. Karena wawancara bersifat terbuka. Wawancara dapat dilakukan dengan bertatap muka, melalui telepon atau melalui media seperti internet. Model wawancara beragam, mulai dari yang sangat tidak terstuktur hingga yang sangat terstruktur. Struktur ditentukan oleh pertanyaan-pertanyaan itu sendiri atau pewawancara. Survey dan wawancara bersifat terstruktur dan terbuka. Pertanyan-pertanyaan bersifat spesifik. Survey dan wawancara memiliki masalah dalam penelitiannya, kecenderungan responden untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan cara yang mereka pakai untuk diterima atau digunakan secara sosial, bisa saja mereka menjawab dengan apa yang benar-benar muncul dalam pikiran atau yang mereka rasakan daripada dengan cara mengkomunikasikan apa yang benar-benar pikirkan. contoh-contoh pertanyaan wawancara yang terstuktur adalah : pada minggu lalu, seberapa sering anda meneriaki pasangan, dan berapa sering pada tahun yang lalu anak anda terlibat dalam perkelahian di sekolah.
Kadang-kadang cara terbaik dan tercepat untuk memperoleh informasi dari orang-orang adalah dengan cara meminta informasi dari mereka. para psikolog menggunakan wawancara untuk mengetahui pengalaman dan sikap para individu.
Terdapat beberapa aspek penting saat melakukan penelitian dengan metode survey yaitu :
Responden (subjek) :
Alat ukur (angket, skala, kuisioner) : Isinya berupa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk dijawab oleh responden.
Hipotesis : aspek penting dari pengujian hipotesis adalah analisis data.
Pengukuran
Variabel
Pewawancara yang berpengalaman mengetahui bagaimana memudahkan responden dan mendorong mereka untuk terbuka penggunaan strategi wawancara ini memaksa para peneliti untuk terlibat dan bukan terpisah dari subjek mereka yang menghasilkan pemahaman yang lebih baik. Satu contoh sebuah survey yang dilakukan Gallup (1999), menanyakan para orang tua mengenai keyakinan mereka tentang masalah terpenting yang dihadapi sekolah. Masalah-masalah tersebut : 43 persen mengatakan obat-obatan terlarang , 40 persen hubungan seksual, 39 persen disiplin di dalam kelas, 28 persen kekerasan, dan 25 persen tekanan sosial di antara siswa untuk menjadi populer. survey ini dilakukan melalui wawancara telepon dengan sampel yang dipilih secara acak sebanyak 338 orang tua di Amerika Serikat. Pembahasan mengenai sampling acak sebelumnya karena sampling acak dianggap sebagai aspek penting dari proses survey.
Kuesioner adalah sama dengan wawancara yang sangat terstruktur kecuali responden membaca pertanyaan-pertanyaan dan menandai jawaban-jawaban mereka di atas kertas dan bukan menjawab secara verbal kepada pewawancara.
Kedua metode tersebut memiliki perbedaan yang spesifik yaitu eksperimen memiliki sebuat treatment atau pemberian perilaku terhadap subjek sedangkan metode penelitian survey tidak menggunakannya melainkan hanya pemberian sebuah angket, wawancara dan kuisioner.
SukaSuka · 

Persepsi

Persepsi [perception] merupakan konsep yang sangat penting dalam psikologi, kalau bukan dikatakan yang paling penting. Melalui persepsilah manusia memandang dunianya. Apakah dunia terlihat “berwarna” cerah, pucat, atau hitam, semuanya adalah persepsi manusia yang bersangkutan. Persepsi harus dibedakan dengan sensasi [sensation]. Yang terakhir ini merupakan fungsi fisiologis, dan lebih banyak tergantung pada kematangan dan berfungsinya organ-organ sensoris. Sensasi meliputi fungsi visual, audio, penciuman dan pengecapan, serta perabaan, keseimbangan dan kendali gerak. Kesemuanya inilah yang sering disebut indera.
Jadi dapat dikatakan bahwa sensasi adalah proses manusia dalam dalam menerima informasi sensoris [energi fisik dari lingkungan] melalui penginderaan dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal “neural” yang bermakna. Misalnya, ketika seseorang melihat (menggunakan indera visual, yaitu mata) sebuah benda berwarna merah, maka ada gelombang cahaya dari benda itu yang ditangkap oleh organ mata, lalu diproses dan ditransformasikan menjadi sinyal-sinyal di otak, yang kemudian diinterpretasikan sebagai “warna merah”.
Berbeda dengan sensasi, persepsi merupakan sebuah proses yang aktif dari manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberikan makna pada informasi yang diterimanya. Benda berwarna merah akan memberikan sensasi warna merah, tapi orang tertentu akan merasa bersemangat ketika melihat warna merah itu, misalnya.
Contoh klasik dari fungsi persepsi ini tampak pada gambar berikut ini. Coba perhatikan baik-baik, gambar siapa yang Anda lihat?

Memori

Memori

Dalam lingkup ilmu Psikologi, ada beberapa teori mengenai Memori yang dikemukakan oleh para ahli. Di bawah ini akan dibahas beberapa dari teori-teori tersebut.
ASSOCIATION MODEL (MODEL ASOSIASI)
Teori awal mengenai Memori dikenal sebagai Association Model (Model Asosiasi). Menurut model ini, memori merupakan hasil dari koneksi mental antara ide dengan konsep. Tokoh yang terkenal mendukung teori ini antara lain adalah Ebbinghaus yang melakukan beberapa penelitian, antara lain mengenai fungsi lupa serta savings. Grafik di bawah menunjukkan salah satu hasil penelitian yang menunjukkan tingkat retensi yang makin rendah dengan berjalannya waktu.
COGNITIVE MODEL (MODEL KOGNITIF)
Cognitive Model (Model Kognitif) mengatakan bahwa Memori merupakan bagian dari information processing. Teori ini mencoba menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga macam Memori sebagai berikut:
Memori Sensoris:
Memori Sensoris didefinisikan sebagai ”momentary lingering of sensory information after a stimulus is removed.” Diterjemahkan secara bebas, kalimat di atas bermakna bahwa Memori Sensoris adalah informasi sensoris yang masih tersisa sesaat setelah stimulus diambil. Tidak semua informasi yang tercatat dalam Memori Sensoris akan disimpan lebih lanjut ke Memori Jangka Pendek atau Jangka Panjang, karena manusia akan melakukan proses selective attention, yaitu memilih informasi mana yang akan diproses lebih lanjut.
Memori Jangka Pendek: Memori Jangka Pendek disimpan lebih lama dibanding Memori Sensoris. Memori ini berisi hal-hal yang kita sadari dalam benak kita pada saat ini. Otak kita dapat melakukan beberapa proses untuk menyimpan apa yang ada di Memori Jangka Pendek ke dalam Memori Jangka Panjang, misalnya rehearsal (mengulang-ulang informasi di dalam benak kita hingga akhirnya kita mengingatnya) atau encoding (proses di mana informasi diubah bentuknya menjadi sesuatu yang mudah diingat). Salah satu contoh konkret proses encoding adalah ketika kita melakukan chunking, seperti ketika kita mengingat nomor telepon, di mana kita akan berusaha membagi-bagi sederetan angka itu menjadi beberapa potongan yang lebih mudah diingat.
Memori Jangka Panjang: Memori Jangka Panjang adalah informasi-informasi yang disimpan dalam ingatan kita untuk keperluan di masa yang akan datang. Ketika kita membutuhkan informasi yang sudah berada di Memori Jangka Panjang, maka kita akan melakukan proses retrieval, yaitu proses mencari dan menemukan informasi yang dibutuhkan tersebut. Proses retrieval ini bisa berupa:
Recognition: Mengenali suatu stimulus yang sudah pernah dialami sebelumnya. Misalnya dalam soal pilihan berganda, siswa hanya dituntut untuk melakukan recognition karena semua pilihan jawaban sudah diberikan. Siswa hanya perlu mengenali jawaban yang benar di antara pilihan yang ada.
Recall: Mengingat kembali informasi yang pernah disimpan di masa yang lalu. Misalnya ketika saksi mata diminta menceritakan kembali apa yang terjadi di lokasi kecelakaan, maka saksi tersebut harus melakukan proses recal.
Retrieval bisa dibantu dengan adanya cue, yaitu informasi yang berhubungan dengan apa yang tersimpan di Memori Jangka Panjang. Terkadang kita merasa sudah hampir bisa menyebutkan sesuatu dari ingatan kita namun tetap tidak bisa; fenomena ini disebut tip of the tounge. Misalnya ketika kita bertemu dengan kenalan lama dan kita yakin sekali bahwa kita mengingat namanya namun tetap tidak dapat menyebutkannya.
TULVING’S THEORY OF MULTIPLE MEMORY SYSTEMS
Menurut Tulving, Memori dapat dilihat sebagai suatu hirarki yang terdiri dari tiga sistem Memori:
Memori Prosedural: Memori mengenai bagaimana caranya melakukan sesuatu, misalnya Memori mengenai bagaimana caranya mengupas pisang lalu memakannya. Memori ini tidak hanya dimiliki manusia, melainkan dimiliki oleh semua makhluk yang mempunyai kemampuan belajar, misalnya binatang yang mengingat bagaimana caranya melakukan akrobat di sirkus.
Memori Semantik: Memori mengenai fakta-fakta, misalnya Memori mengenai ibukota-ibukota Negara. Kebanyakan dari Memori Semantik berbentuk verbal.
Memori Episodik: Memori mengenai peristiwa-peristiwa yang pernah dialami secara pribadi oleh individu di masa yang lalu. Misalnya Memori mengenai pengalaman masa kecil seseorang.
Tulving mengajukan bukti adanya sistem memori yang terpisah-pisah seperti di atas antara lain melalui:
Amnesia: Adanya amnesia yang berbeda-beda, misalnya penderita amnesia yang melupakan semua Memori Episodik (pengalaman masa lalu), tapi masih mengingat Memori Prosedural.
Penyakit Alzheimer’s yang juga hanya menyerang sistem memori tertentu saja.
CARA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMORI
Para ahli masih memperdebatkan apakah Memori merupakan suatu trait (sifat) atau skill (kemampuan). Trait merupakan sesuatu yang stabil dan tidak dapat ditingkatkan, sedangkan skill merupakan sesuatu yang bisa dipelajari dan ditingkatkan.
Orang yang memiliki kemampuan Memori yang sangat tinggi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Proses encoding yang majemuk dan bermakna.
Memiliki banyak cue dengan asosiasi tinggi
Banyak latihan
Contoh orang-orang dengan kemampuan Memori yang tinggi:
Steve Faloon: dapat mengingat deretan angka yang panjang
John Conrad: dapat mengingat pesanan makanan di restoran dengan sangat baik
Rajan: dapat mengingat angka phi
Bagi orang normal, ada cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan Memori, antara lain:
Mnemonic: Menciptakan asosiasi antar hal yang harus diingat.
Method of loci: Berusaha menciptakan gambaran seperti peta di benak kita dan mengasosiasikan tempat-tempat dalam peta itu dengan hal yang ingin diingat.
Peg word/ irama: Mengasosiasikan kata yang ingin diingat dengan kata lain yang berirama.
Menggunakan bayangan visual, misalnya John Conrad menggunakan bayangan visual untuk mengingat pesanan makanan dari para tamu.
Memahami hal yang harus diingat, dan tidak hanya menghafalkan di luar kepala. Hal yang dipahami akan diingat lebih lama daripada hafalan luar kepala.
Konteks ketika suatu hal sedang dipelajari sama dengan konteks ketika hal tersebut harus diingat kembali (encoding specificity)
Memori akan baik ketika individu merasa terlibat secara emosional, namun keterlibatan emosional tidak terlalu tinggi.
Menggunakan sebanyak mungkin cue ketika berusaha mengingat sesuatu.
Memori akan lebih baik jika sesuatu dipelajari berulang kali walaupun masing-masing sesi cukup pendek, daripada mempelajari sesuatu dalam satu sesi yang panjang. Jadi, lebih baik mempelajari sesuatu dalam 3 sesi terpisah yang masing-masing lamanya 20 menit daripada 1 sesi yang lamanya 1 jam.
Memori akan lebih baik jika bahan pelajaran disimpan dalam beberapa cara, misalnya mengingat suatu pelajaran baik dari segi visual maupun audio akan lebih baik daripada hanya salah satu saja.

Pembuatan keputusan



Pembuatan keputusan adalah proses memilih diantara dua alternatif atau lebih, memprediksi situasi kedepan atau menaksir frekuensi suatu kejadian berdasarkan bukti-bukti yang terbatas
Pendekatan dalam Pembuatan Keputusan, ada dua :
Pendekatan Normatif
1. Pendekatan yang menitikberatkan pada apa yang seharusnya dilakukan oleh pembuat keputusan sehingga diperoleh suatu keputusan yang rasional
Pendekatan Deskriptif
2. Pendekatan yg menekankan pada apa saja yang telah dilakukan pembuat keputusan tanpa melihat keputusan yg dihasilkan rasional atau tidak
Keputusan yang kompleks
Menurut Anderson ada tiga kemungkinan pendekatan berdasarkan nilai yang diharapkan pada situasi yang kompleks, yaitu:
Memaksimalkan nilai minimum
Memaksimalkan nilai maksimum
Memaksimalkan nilai harapan
Keputusan yang kompleks
1. Memaksinalkan nilai minimum
-Disini org akan mempertimbangkan resiko yg paling buruk jk memilih suatu alternatif
-Keputusan dibuat sepenuhnya mnrt pertimbangan resiko paling buruk
2. Memaksimalkan nilai maksimum
-Org cenderung mempertimbangkan hal-hal yang baik dan mungkin dapat terjadi jika ia memilih suatu alternatif
-Keputusan dibuat sepenuhnya menurut perspektif kemungkinan paling -baik
3. Memaksimalkan nilai harapan
-Pendekatan ini dianggap paling rasional krn memperhitungkan kemungkinan baik dan buruk yang akan terjadi terhadap alternatif-alternatif pilihan yg dibuatnya
langkah2 mngmbil kputusan'
1 identfikasi bhwa suatu kputusan prlu dibuat
2 cari 2 altrnatif/ lebih yg d anggap cocok dg tjuan yg d inginkn
3 mmlih altrntif yg baik, dg pertmbangan yg multidimensional
4 mlksnakn kputusan dan mngevaluasi hasilnya
Problem solving adalah proses berpikir yang diarahkan pada pemecahan permasalahan yang spesifik, yang didalamnya mencakup proses pembentukan dan pemilihan respon-respon yang mungkin
Masalah
Masalah atau problem merupakan kesenjangan antara situasi yang dihadapi sekarang dengan tujuan yang diinginkan
Suatu masalah mengandung tiga komponen:
1 Situasi sekarang
2 Tujuan yang diinginkan
3 Prosedur yg ditempuh untuk mengatasi kesenjangan antara keduanya
Ada beberapa tahapan penting dalam memecahkan masalah menurut Ellis & Hunt, 1989), yaitu:
1 Pemahaman masalah
2 Penemuan berbagai hipotesis mengenai cara pemecahan dan memilih salah satu diantara hipotesis-hipotesis itu
3 Menguji hipotesis yang dipilih itu dan mengevaluasi hasil-hasilnya
Cara-cara yang dapat ditempuh dalam merepresentasikan masalah adalah membuat daftar sifat, pohon bercabang, grafik dan gambar
Pelatihan Memecahkan masalah
Menggunakan pendekatan IDEAL:
I: Identifikasi masalah
D: Definisi Masalah
E: Eksplorasi berbagai kemungkinan strategi
A: Aksi atau tindakan
L: Lihat efek-efeknya
Berikut ini merupakan rangkaian stereotype problem solving dikemukakan oleh Hayes (1989), dalam penyelesaian masalah yang dihadapi sewaktu memasuki dunia nyata setelah lulus dari universitas:
 Cognition Action & Nature of the Problem
1. Identifikasi masalah 
Saya akan berefleksi pd proses pemecahan masalah ini dan menggunakan pengetahuan ini untuk menghadapi masalah yg akan datang 
2. Representasi masalah
Pengangguran: tdk ada pemasukan, harus cari kerja (tdk boleh lama lagi bergantung dr orang tua)
3. Perencanaan Penyelesaian Masalah
Menulis surat lamaran; mencari lapangan kerja; konsultasi dng teman dan guru
4. Pelaksanaan Rencana 
Membuat janji dng perusahaan yg menarik; diinterview (membuat suatu loncatan)
5. Evaluasi Rencana 
Saya akan mempertimbangkan setiap tawaran dlm hidupku dan setiap kebutuhan dan membuat keputusan (siapa yg menawarkan uang banyak, liburan panjang, pensiun cepat) 
6. Evaluasi Penyelesaian Masalah
Lulus dr universitas: merupakan akhir dari suatu fase massa hidup (waktu untuk tumbuh kembali)

MOTIF
Rangsangan, Dorongan, Pembangkit tenaga bagi terjadinya Tingkah Laku
MOTIVASI
Seluruh proses gerakan, termasuk situasi yang mendorong dorongan yang timbul dalam diri individu, tikah laku yang ditimbulkan oleh dororngan tersebut, dan tujuan atau hasil akhir dari perbuatan
HIRARKI MOTIF
by abraham maslow
Self Actualization
Esteem
Belonging
Savety need
Pysiology